Sabtu, 24 Maret 2018

Urgensi Penerapan Gaya Hidup Nir Kertas


Kebutuhan pokok manusia modern saat ini bukan hanya hal-hal yang digunakan untuk mendukung berlangsungnya hidup, namun juga kehidupan. Interaksi sosial, listrik, bahkan kertas kini menjadi kebutuhan vital. Kenyataannya tidak ada kantor atau perusahaan yang alpa dalam memasukkan biaya pembelian stok kertas dalam anggaran belanjanya.
Seperti halnya di sektor lain, potensi kemajuan industri bubur kertas dan kertas di Indonesia memiliki dampak positif dan negatif, terutama bagi alam. Pada tahun 2010, penggunaan bahan baku murni alami (virgin materials) dari hutan industri untuk produksi kertas masih tinggi, yakni sebesar 47% dibandingkan 53% material hasil daur ulang (recycled fibre). Hutan di Pulau Kalimantan dan Sumatera menjadi sorotan bagi banyak pecinta lingkungan dunia yang memiliki perhatian terhadap urusan industri kertas, karena eksploitasi kayu hutan sebagai bahan baku dapat menyebabkan terancamnya keadaan biodiversitas di lokasi tersebut.
Selain hutan, dampak dari kegiatan produksi bubur kertas dan kertas dirasakan juga oleh keadaan air dan siklusnya. Meski mayoritas tempat produksi kertas sudah memiliki perlakuan untuk air limbah industrinya, namun tetap saja ada kemungkinan pencemaran air untuk terjadi. Bentuk-bentuk pencemaran terhadap air dapat berupa larutnya senyawa klorin, penumpukan bahan organik pada air yang menghabiskan kandungan oksigen terlarut, peningkatan kadar asam akibat sulfur dioksida, maupun potensi eutrofikasi dan blooming algae akibat polusi senyawa nitrogen dan fosfat. Seluruh kejadian tersebut pada akhirnya akan bermuara pada kejadian perubahan iklim. Sebagaimana yang dikatakan di awal tulisan ini, penggunaan energi yang besar untuk industri kertas secara otomatis juga menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca yang besar ke udara, terutama pada proses pengolahan atau paper mill. Emisi karbon yang dihasilkan pada proses pembakaran juga bisa saja menjadi racun yang terkumpul di udara apabila perusahaan tidak menerapkan pemanfaatan hutan yang lestari, karena pohon-pohon di hutan sangatlah penting untuk penyerapan karbon tersebut[4].
Atas dasar dampak-dampak kegiatan industri bubur kertas dan kertas yang telah dijabarkan, maka kesadaran untuk menghemat penggunaan kertas seyogyanya semakin digencarkan. Gaya hidup paperless atau nir kertas yang semakin populer sesungguhnya adalah kecenderungan baik yang patut ditiru. Kemudahan gaya hidup ini untuk kini diterapkan tidak terlepas dari pesatnya kemajuan teknologi informasi di dunia. Sejak beberapa tahun lalu, kebiasaan masyarakat yang masih bergantung pada koran dan majalah untuk mendapat informasi dan berita sudah semakin tergeser dengan adanya internet dan akses komunikasi yang cepat bahkan bersifat waktu-nyata (real time). Kesalahan pencetakan dokumen di perkantoran yang dahulu menjadi salah satu penyumbang sampah kertas tertinggi juga kini bisa ditekan karena dokumen dapat dikirim dan disunting secara digital hingga tahap final. Digitalisasi kertas dan dokumen juga membuka kesempatan akses yang sebesar-besarnya, yakni dokumen tersebut bisa dicapai dari lokasi mana saja dengan waktu pencarian yang sedikit internet.

Gaya hidup nir kertas dalam beberapa tahun ke depan semoga bukan lagi menjadi sebuah hal yang perlu dipaksakan atau diatur pelaksanaannya, namun menjadi sebuah kebutuhan. Hal yang perlu ditumbuhkan adalah kesadaran akan banyaknya keuntungan yang didapatkan jika penghematan penggunaan kertas dilakukan, baik keuntungan bagi Bumi maupun kita sebagai manusia yang hidup di atasnya.

Urgensi Penerapan Gaya Hidup Nir Kertas

Kebutuhan pokok manusia modern saat ini bukan hanya hal-hal yang digunakan untuk mendukung berlangsungnya hidup, namun juga kehidupan. In...