Kebutuhan pokok manusia
modern saat ini bukan hanya hal-hal yang digunakan untuk mendukung
berlangsungnya hidup, namun juga kehidupan. Interaksi sosial, listrik, bahkan
kertas kini menjadi kebutuhan vital. Kenyataannya tidak ada kantor atau
perusahaan yang alpa dalam memasukkan biaya pembelian stok kertas dalam
anggaran belanjanya.
Seperti halnya di sektor lain, potensi
kemajuan industri bubur kertas dan kertas di Indonesia memiliki dampak positif
dan negatif, terutama bagi alam. Pada tahun 2010, penggunaan bahan baku murni
alami (virgin materials) dari hutan industri untuk produksi kertas
masih tinggi, yakni sebesar 47% dibandingkan 53% material hasil daur ulang (recycled
fibre). Hutan di Pulau Kalimantan dan Sumatera menjadi sorotan bagi banyak
pecinta lingkungan dunia yang memiliki perhatian terhadap urusan industri
kertas, karena eksploitasi kayu hutan sebagai bahan baku dapat menyebabkan
terancamnya keadaan biodiversitas di lokasi tersebut.
Selain hutan, dampak dari kegiatan
produksi bubur kertas dan kertas dirasakan juga oleh keadaan air dan siklusnya.
Meski mayoritas tempat produksi kertas sudah memiliki perlakuan untuk air
limbah industrinya, namun tetap saja ada kemungkinan pencemaran air untuk terjadi.
Bentuk-bentuk pencemaran terhadap air dapat berupa larutnya senyawa klorin,
penumpukan bahan organik pada air yang menghabiskan kandungan oksigen terlarut,
peningkatan kadar asam akibat sulfur dioksida, maupun potensi eutrofikasi dan blooming
algae akibat polusi senyawa nitrogen dan fosfat. Seluruh kejadian tersebut
pada akhirnya akan bermuara pada kejadian perubahan iklim. Sebagaimana yang
dikatakan di awal tulisan ini, penggunaan energi yang besar untuk industri
kertas secara otomatis juga menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca yang
besar ke udara, terutama pada proses pengolahan atau paper mill. Emisi
karbon yang dihasilkan pada proses pembakaran juga bisa saja menjadi racun yang
terkumpul di udara apabila perusahaan tidak menerapkan pemanfaatan hutan yang
lestari, karena pohon-pohon di hutan sangatlah penting untuk penyerapan karbon
tersebut[4].
Atas dasar dampak-dampak kegiatan industri
bubur kertas dan kertas yang telah dijabarkan, maka kesadaran untuk menghemat
penggunaan kertas seyogyanya semakin digencarkan. Gaya hidup paperless atau
nir kertas yang semakin populer sesungguhnya adalah kecenderungan baik yang
patut ditiru. Kemudahan gaya hidup ini untuk kini diterapkan tidak terlepas
dari pesatnya kemajuan teknologi informasi di dunia. Sejak beberapa tahun lalu,
kebiasaan masyarakat yang masih bergantung pada koran dan majalah untuk
mendapat informasi dan berita sudah semakin tergeser dengan adanya internet dan
akses komunikasi yang cepat bahkan bersifat waktu-nyata (real time).
Kesalahan pencetakan dokumen di perkantoran yang dahulu menjadi salah satu
penyumbang sampah kertas tertinggi juga kini bisa ditekan karena dokumen dapat
dikirim dan disunting secara digital hingga tahap final. Digitalisasi kertas
dan dokumen juga membuka kesempatan akses yang sebesar-besarnya, yakni dokumen
tersebut bisa dicapai dari lokasi mana saja dengan waktu pencarian yang sedikit
internet.
Gaya hidup nir kertas dalam
beberapa tahun ke depan semoga bukan lagi menjadi sebuah hal yang perlu
dipaksakan atau diatur pelaksanaannya, namun menjadi sebuah kebutuhan. Hal yang
perlu ditumbuhkan adalah kesadaran akan banyaknya keuntungan yang didapatkan
jika penghematan penggunaan kertas dilakukan, baik keuntungan bagi Bumi maupun
kita sebagai manusia yang hidup di atasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar